Jenis Hama dan Penyakit Tanaman Cabai yang Paling Sering Menyerang
Infarm
29 April 2026
.
4756
.
Hama dan penyakit pada tanaman cabai merupakan salah satu faktor penghambat pertumbuhan tanaman. Serangan organisme pengganggu tumbuhan terjadi di semua tahap penanaman, dimulai dari sebelum masa tanam, di pertanaman, sampai masa panen tiba.
Kehilangan hasil tanaman akibat serangan hama dan penyakit di pertanaman diperkirakan dapat mencapai 25-100% dari potensi hasil. Serangan ini akan menurunkan kualitas dan harga produk serta daya saing produk di pasar.
Tanaman cabai adalah salah satu jenis tanaman yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Sayangnya, tanaman ini juga rentan terhadap serangan hama dan penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan dan hasil panen.
Hama ini termasuk hama polifag. Kutu daun betina merupakan menghasilkan keturunan tanpa kehadiran pejantan (partenogenesis). Kutu ini biasanya menyerang cabai saat berumur 35-80 hari setelah tanam. Hama ini menyerang dengan cara menghisap daun, pucuk, tangkai bunga, dan bagian tanaman lainnya.
Serangan pada daun muda menyebabkan daun-daun melengkung dan keriting. Pada daun tua menyebabkan daun menguning (klorosis) dan akhirnya rontok sehingga produksi cabai menurun. Kutu daun juga mengeluarkan cairan manis (madu) yang mengundang embun jelaga dapat menutupi permukaan daun sehingga menghambat fotosintesis. Hama ini dapat dikatakan sebagai vektor virus
Pengendalian dapat dilakukan dengan menginfestasikan musuh alami seperti, parasitoid Aphelinus gossypi (Timberlake), Lysiphlebus testaceipes (Cresson), predator Coccinella transversalis atau cendawan entomopatogen Neozygites fresenii.
2. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Ulat merupakan hama yang poluler bagi tanaman sayur-sayuran termasuk tanaman cabai. Ulat grayak menyerang tanaman beramai-ramai dalam jumlah ratusan sehingga tanaman bisa habis dalam semalam.
Hama ini tergolong Noctuidae yang aktif di malam hari. Saat siang hari ulat ini bersembunyi di sela tangkai daun, di bawah tanaman, bahkan dalam tanah karena takut terkena paparan sinar matahari. Hama ulat grayak menyerang pada musin kemarau dengan memakan daun mulai dari bagian tepi hingga atas maupun bawah daun. Bahkan, memakan daun sampai menyisahkan tulang daunnya saja. Daun yang dimakan menjadi berlubang tidak beraturan sehingga proses fotosintesis terhambat
3. Tungau (Tetranycus sp.)
Tungau merupakan hama polifag. Tungau menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap cairan sel daun atau pusuk tanaman. tungau yang menyerang cabai meninggalkan jejak bintik-bintik kuning atau keputihan di bagian permukaan daun. Serangan berat terjadi pada musim kemarau yang menyebabkan cabai tidak tumbuh normal dan daun-daunnya melengkung. Tungau juga berperan sebagai vektor bagi virus
Cara Pengendalian:
Sanitasi kebun dengan memusnahkan tanaman yang terserang.
Pemanfaatan musuh alami yaitu predator Ambhyseins cucumeris (tunga predator).
Pengendalian dengan akarisida (insektisida) yang efektif apabila ditemukan gejala kerusakan daun dan populasi tungau.
4. Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)
Lalat buah adalah hama yang menyerang buah cabai pada fase kematangan. Lalat buah menyerang buah cabai dengan cara meletakkan telurnya di dalam buah cabai. Telur akan menetas menjadi ulat yang merusak buah cabai. Buah yang terserang akan tampak bercak bulat di permukaan kulit, kemudian berlubang kecil dan membusuk. Apabila cabai yang rusak dibelah, bijinya tampak kehitanaman dan membusuk.
Cara Pengendalian:
Pemusnahan buah yang terserang.
Pembungkusan buah.
Pengggunaan perangkap petrogenol. Perangkap dipasang pada saat tanaman berumur 2 minggu sampai akhir panen dan atraktan diganti setiap 2 minggu sekali.
Rotasi tanaman.
Pemanfaatan musuh alami antara lain parasitoid larva dan pupa (Biosteres sp, Opius sp), predator semut, Arachnidae (laba – laba), Staphylinidae (kumbang) dan Dermatera (Cecopet).
Pengendalian secara kimiawi dilakukan apabila pengendalian lainnya tidak dapat menurunkan populasi hama. Pestisida yang digunakan harus efektif dan sesuai anjuran.
5. Thrips
Thrips merupakan salah satu hama utama pada tanaman cabai. Thrips merupakan hama polifag, artinya menyerang hampir semua jenis tanaman. namun, yang menyerang cabai biasanya jenis Trips Parvispinus.
Thrips kadang berperan sebagai vektor virus. Hama ini menyerang daun muda, tunas, bunga, dan buah. Daun yang terserang menjadi keriput dan keriting ke arah atas. Buah muda yang terserang menjadi rusak dan bentuknya tidak beraturan. Buah sering rontok sebelum dipanen akibat terserang penyakit sekunder serangan hama ini.
Menggunakan tanaman perangkap seperti kenikir kuning.
Menggunakan mulsa perak.
Sanitasi lingkungan dan pemotongan bagian tanaman yang terserang thrips.
Penggunaan perangkap warna kuning yang dipasang sejak tanaman berumur 2 minggu. Perangkap dapat dibuat dari potongan bambu yang dipasang plastik map warna kuning. Plastik diolesi dengan lem agar thrips tertarik menempel.
Pemanfaatan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama thrips, antara lain predator kumbang Coccinellidae, tungau, predator larva Chrysopidae, kepik Anthocoridae dan patogen Entomophthora sp.
Pestisida digunakan apabila populasi hama atau kerusakan tanaman telah mencapai ambang pengendalian (serangan mencapai lebih atau sama dengan 15% per tanaman contoh) atau cara-cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama.
6. Kutu Kebul(Bemicia tabaci)
Kutu kebul atau white fly merupakan hama yang paling berbahaya. Kutu kebul menghasilkan getah lengket yang tertinggal di permukaan daun getah itulah yang mengandung serbuan cendawan juga Canodium. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis tidak berlangsung normal. Kutu kebul juga bertindak sebagai vektor virus.
Penurunan produksi cabai akibat kutu kebul mencapai 20-100%. Virus yang dikeluarkan oleh kutu kebul mencapai 60 jenis virus, antara lain Closterovirus, Carlavirus, Geminivirus, Nepovirus, Potyvirus, dan Rod-shape DNA Virus. Hama ini menghisap cairan pada bagian batang dan daun cabai, sehingga menyebabkan daun menjadi keriting dan kering.
Cara Pengendalian:
Pemanfaatan musuh alami, seperti predator, parasitoid dan patogen serangga.
Predator yang diketahui efektif terhadap kutu kebul, antara lain Menochilus sexmaculatus (mampu memangsa larva Bemisia tabaci), Coccinella septempunctata, Scymus syriacus, Chrysoperla carnea, Scrangium parcesetosum, Orius albidipennis, dll.
Parasitoid yang diketahui efektif menyerang B. Tabaci adalah Encarcia adrianae (15 spesies), E. Tricolor, Eretmocerus corni (4 spesies), sedangkan jenis patogen yang menyerang B. Tabaci, antara lain Bacillus thuringiensis, Paecilomyces farinorus dan Eretmocerus.
Penggunaan perangkap kuning dapat dipadukan dengan pengendalian secara fisik/mekanik dan penggunaan insektisida secara selektif.
Sanitasi lingkungan.
Tumpangsari antara cabai dengan Tagetes, penanaman jagung disekitar tanaman cabai sebagai tanaman perangkap.
Sistem pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanaman bukan inang, seperti tanaman kentang dan mentimun.
Penggunaan pestisida selektif sebagai alternatif terakhir.
7. Ulat Tanah ( Agrotis sp.)
Hama ini bersembunyi di dalam tanah sehingga bebas memotong akar dan batang bagian bawah yang baru tumbuh sampai tanaman roboh. Hama ini termasuk famili Noctuidae yang aktif di malam hari. Ulat tanah menyerang akar, batang dan daun.
Penyakit pada tanaman cabai dapat menurunkan kualitas produk yang dihasilkan bahkan menyebabkan kematian pada tanaman. Tanaman yang terinfeksi penyakit, akan menampakkan gejala berupa bercak yang memiliki pola dan warna tertentu pada beberapa bagian tubuh tanamana cabai.
1. Virus Gemini
Virus Gemini adalah virus yang disebabkan oleh virus dari genus Begomovirus, famili Geminiviridae. Virus ditularkan oleh kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci)secara bertahap yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut.
Gejala pada cabai merah pertama kali muncul pada daun muda atau pucuk berupa bercak kuning di sekitar tulang daun, kemudian berkembang menjadi urat daun berwarna kuning (vein clearing), cekung dan mengkerut dengan warna mosaik ringan atau kuning. Jika tanaman terinfeksi pada waktu masih sangat muda, tanaman terhambat pertumbuhannya dan kerdil.
Mengendalikan serangga vektor virus kuning yaitu kutu kebul (Bemisia tabaci) dengan menggunakan musuh alami predator seperti Menochilus sexmaculatus atau jamur patogen serangga seperti Beauveria bassiana atau Verticillium lecani.
Melakukan sanitasi lingkungan terutama tanaman inang seperti ciplukan, terong, gulma bunga kancing.
Pemupukan tambahan untuk meningkatkan daya tahan tanaman sehingga tanaman tetap berproduksi walaupun terserang virus kuning.
2. Antraknosa
Serangan antraknosa pada cabai disebabkan oleh cendawan atau infeksi jamur colletotrichum sp. Infeksi jamur ini dapat terbawa dalam benih yang akan menyerang pada tahap pembibitan. Sumber penularannya juga dapat berasal sanitasi yang tidak bersih dari buah yang rusak atau busuk.
Gejala antraknosa yaitu muncul bercak coklat kehitaman dengan bentuk melingkar pada buah cabai. Jika tidak ditangani secara baik, lama kelamaan akan menyabar dan membuat buah cabai menajadi busuk dan kering.
Cara Pengendalian:
Pencegahan dapat dilakukan dengan membersihkan lahan dan tanaman yang terserang agar tidak menyebar.
Seleksi benih atau menggunakan benih cabai yang tahan terhadap penyakit ini perlu dilakukan mengingat penyakit ini termasuk patogen tular benih.
Pergiliran tanaman, penggunaan benih sehat dan sanitasi dengan memotong dan memusnahkan buah yang sakit.
Penggunaan fungisida sesuai anjuran sebagai alternatif terakhir.
3. Layu Fusarium
Penyakit layu fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum yang berkembang cepat pada kondisi tanah lembab terutama pada cabai yang ditanam musim penghujan, penularan dilakukan dengan spora terutama melalui perantaraan aliran air dan peralatan pertanian. Penyakit ini menyerang pangkal batang sehingga mengakibatkan kerugian besar bahkan kegagalan penanaman.
Tanaman yang terserang akan menunjukan gejala tulang daun dewasa berwarna kuning kemudian berangsur-angsur daun menjadi layu. Jamur penyebab penyakit berada dalam pembuluh kayu dan pada pangkal batang diselimuti seperti jalinan benang berwarna putih dan kulit batang yang mulai membusuk.
Sanitasi dengan mencabut dan memusnahkan tanaman terserang.
Memanfaatkan agen antagonis Trichoderma spp. dan Gliocladium spp. yang diaplikasikan bersamaan dengan pemupukan dasar.
Penggunaan fungisida sesuai anjuran sebagai alternatif terakhir.
4. Bercak Daun
Penyakit ini menimbulkan kerusakan pada daun, batang dan akar. Gejala serangan bercak duan mulai terlihat dari munculnya bercak bulat berwarna coklat pada daun dan kering, ukuran bercak bisa mencapai sekitar 1 inci.
Pusat bercak berwarna pucat sampai putih dengan warna tepi lebih tua. Bercak yang tua dapat menyebabkan lubang-lubang. Bercak daun mampu menimbulkan kerugian ekonomi yang besar pada budidaya cabai, daun yang terserang akan layu dan rontok. Penyakit bercak daun ini dapat menyerang tanaman muda di persemaian, dan cenderung lebih banyak.
Cara Pengendalian:
Sanitasi dengan cara memusnahkan dan atau sisa-sisa tanaman yang terinfeksi/terserang.
Menanam bibit yang bebas patogen pada lahan yang tidak terkontaminasi oleh patogen, baik dipersemaian maupun di lapangan.
Perlakuan benih sebelum tanam.
Perbaikan drainase.
Waktu tanam yang tepat adalah musim kemarau dengan irigasi yang baik dan pergiliran tanaman dengan tanaman non solanaceae.
Pengendalian kimia dapat dilakukan dengan fungisida secara bijaksana.
Dapatkan update artikel pilhan dan sharing tanaman setiap hari dari Infarm.id. Mari bergabung di Grup Komunitas Telegram “Berkebun Bersama Infarm”, caranya klik link https://t.me/berkebunbersamainfarm, kemudian join. Anda harus install aplikasi telegram terlebih dahulu di ponsel.